Buat Para Penulis, Berikut 10 Langkah Menulis Novel dengan Teknik Snowflake. Yuk Dicoba!

Advertisement


Baca Juga


Advertisement

Menulis novel dengan teknik snowflake - Kalau kamu sedang menulis novel, teknik apakah yang kamu pakai? Atau mungkin enggak pakai teknik apapun? Sebenarnya, ada banyak teknik menulis novel, diantaranya adalah teknik snowflake. Teknik ini dipopulerkan oleh Randy Ingermanson, seorang novelis yang memang selalu menggunakan teknik ini dalam menulis novel-novelnya.

Menulis novel dengan teknik snowflake
Yuk menulis novel pakai teknik snowflake via abc7news.com

Dalam teknik snowflake atau butiran salju, penulis memikirkan sebuah desain dari novel tersebut. Menurut Randy, itu akan menghasilkan novel yang bagus. Sebab, penulis bisa mengetahui detail dari ceritanya.

Keuntungan dari teknik ini, penulis bisa menghindari writers block, karena ceritanya sudah terkonsep dari awal sampai akhir. Jadi, enggak ada lagi yang namanya berhenti di tengah jalan karena enggak tahu lagi mau nulis apaan.

Dalam teknik snowflake ini, ada 10 tahapan yang dijelaskan oleh Randy. Daripada penasaran, yuk intip aja penjelasannya berikut ini.


1. Tulis inti ceritamu dalam satu kalimat.

Yang pertama kali harus kamu lakukan adalah membuat inti ceritamu dalam satu kalimat. Tulislah cerita yang mau kamu buat, yang mencakup dari awal sampai akhir. Misalnya:


Seorang gadis yang mencari pasangan hidup demi masa depannya.

Atau,


Perjuangan seorang pria meraih impiannya di negeri seberang.

Jadi, hanya satu kalimat saja ya. Enggak perlu menjelaskan nama. Yang penting jelas inti ceritanya.



2. Kembangkan ceritamu dalam satu paragraf yang sudah jelas awal, tengah, hingga akhir.

Setelah kamu membuat satu kalimat, kembangkan kalimat tersebut hingga menjadi satu paragraf, di mana ada penjelasan awal ceritanya, tengah, hingga akhir. Yang penting satu paragraf saja ya.



3. Tentukan tokoh-tokoh ceritamu.

Di tahap ini, kamu harus menentukan tokoh-tokoh dalam ceritamu. Tentukan siapa tokoh utamanya, tokoh pendukung, pendamping, tokoh figuran, peran masing-masing tokoh, dan lain-lain. Jadi, kamu sudah ada gambaran tentang siapa saja tokoh-tokohnya saat mulai membuat cerita.



4. Setiap bagian di langkah nomor dua, kembangkan masing-masing menjadi menjadi satu paragraf.

Dalam tahap nomor dua di atas, kembangkan tiap kalimatnya masing-masing menjadi satu paragraf. Jadi, kalimat pertama yang menjelaskan awal cerita, dikembangkan menjadi satu paragraf. Kalimat kedua yang berada di tengah, dikembangkan menjadi satu paragraf. Begitu juga dengan kalimat terakhir yang dikembangkan menjadi satu paragraf.


5. Buat penjelasan lebih mendalam tentang tokohmu.

Dalam tahap nomor tiga di mana kamu sudah membuat tokoh-tokohnya, buatlah penjelasannya yang lebih mendalam. Misalnya, tokoh A memiliki sifat pendiam, cuek, tetapi peduli ke temannya. Tokoh B kebalikan dari tokoh A, dan lain-lain. Tulislah penjelasan masing-masing tokoh.



6. Buatlah sinopsis lebih panjang, lima halaman kalau perlu.

Sinopsis ini berbeda dengan sinopsis yang biasa kamu lihat di belakang buku saat sedang ke toko buku atau mau membeli buku. Sinopsis yang dimaksud adalah ringkasan cerita dari awal sampai akhir. Kamu tulislah ringkasan ceritamu, dan kalau bisa hingga lima lembar halaman. Dengan begitu, kamu jadi tahu apa saja plot dan alur ceritanya.



7. Untuk setiap karakter yang penting, buatlah data yang lebih mendetail (character bible).

Karakter penting di sini yang pastinya adalah karakter utama, karakter pendukung, dan karakter yang menjadi lawan karakter utama. Kamu buat data yang lebih detail (character bible) dari tahap nomor lima di atas. Misalnya, sifatnya, wataknya, gaya bicaranya, rambutnya, matanya, kulitnya, keluarganya, dan lain-lain. Pokoknya yang mendetail hingga ke akar-akarnya.



8. Buatlah daftar urutan adegan novelmu hingga tamat.

Kamu buat daftar adegan novel kamu dari awal hingga akhir, yang merupakan pengembangan dari sinopsis yang kamu buat dari tahap nomor enam. Buatlah adegan yang mau kamu ceritakan yang bisa membuat jalannya cerita.



9. Analisis urutan adegan novelmu, apakah sudah pas atau belum.

Periksalah tahap dari nomor delapan di atas. Apakah urutan adegannya sudah benar atau enggak. Apakah adegan sebab akibatnya sudah benar atau enggak. Periksa lagi. Jangan sampai ada adegan yang terlihat aneh ya. Misalnya:

Tokoh A dan tokoh B pulang sekolah bareng, lalu keduanya mencuci pakaian.

Ini terlihat tidak sesuai dengan sebab akibatnya. Sebab, mana ada ketika pulang sekolah lalu tiba-tiba mencuci pakaian. Kecuali jika ada adegan lain di antaranya. Misalnya:

Tokoh A dan tokoh B pulang sekolah bareng. Namun, mereka terjebak hujan dan seragamnya basah kuyup. Begitu tiba di rumah, mereka langsung mencuci pakaiannya.

Contoh di atas terlihat jelas hubungan sebab akibat dan alurnya. Jadi, kamu koreksi lagi semuanya apakah sudah sesuai dan benar.



10. Tulis naskahmu hingga tamat dan sunting kembali.

Langkah terakhir, kamu tulis seluruh naskah ceritamu dari awal hingga akhir, sesuai dengan apa yang sudah kamu konsep sebelumnya. Dari tahap satu sampai sembilan itu, kamu sudah menjabarkan ceritanya. Jadi, kamu hanya perlu mengembangkan lagi hingga menjadi novel yang utuh.
Advertisement

Bagikan Artikel Ini

Artikel Menarik Lainnya

« Next
Prev Post
Previous »
Next Post

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan relevan dengan artikel, juga tidak mengandung unsur SARA, kebohongan, provokasi, link aktif, serta pornografi. Jika ada yang melanggar akan segera dihapus. Terima kasih.

Pasang Iklan