Stop Labeling! Karena Kita Manusia, Bukan Barang

Stop labeling - Labeling? Terasa asing ya di telinga. Nah, untuk mempermudah penjelasannya, kalian pasti tahu tentang label yang harus ada pada kemasan barang bukan? Seperti produk makanan ringan, yang biasa tertulis tentang deskripsi produk tersebut. Contoh snack Arimpi enak dan gurih. Ya, itulah labeling. Jika di dalam dunia bisnis, tujuannya yang jelas untuk menarik pembeli. Tapi lain lagi jika labeling ini dilakukan pada manusia, biasanya malah akan berdampak buruk.

Stop labeling
Labeling yang tanpa sadar terjadi di sekitar kita via blog.ruangguru.com
Memangnya ada manusia yang memiliki label seperti barang? Tentu saja ada. Bahkan tanpa sadar, kalian telah menjadi korban labeling atau bahkan telah menjadi orang yang suka me labeli orang lain. Yuk, kenali kalian termasuk tipe yang mana.


Termasuk yang mana kalian? Melabeli atau dilabeli

Stop labeling
Melabeli atau dilabeli nih via hewisdomdaily.com
Seperti penjelasan di atas, banyak di antara kita yang tanpa sadar membuat label atau bahkan telah dilabeli oleh lingkungan sekitar. Lingkungan akan membentuk perilaku individu. Lingkungan pertama yang sangat bertanggung jawab atas pelabelan tersebut adalah keluarga terutama orangtua. Kedua, tentu saja lingkungan sekitar seperti sekolah dan lingkungan bermain. Nah jika kalian belum paham contoh labeling, simak penjelasan berikut.

Orangtua tanpa sadar biasanya melakukan labeling yang terlihat sepele, tapi berdampak besar bagi perkembangan sang anak. Seperti, "Dasar anak pemarah, bisa tidak kamu berhenti menjadi pemarah."

Kata-kata tersebut memang mengandung nasihat yang tidak salah. Namun, perlu diketahui bahwa kata-kata tersebut mengandung labeling yang akan melekat pada ingatan sang anak. Hal itu akan membentuk perilakunya sama seperti apa yang sering dilabeli pada diri mereka. Akhirnya, sang anak menjadi pemarah. Belum lagi pengaruh sekolah, teman di sekitar akhirnya ikut melabeli anak tersebut. Terlihat simple bukan? Namun punya efek yang luar biasa. Jadi, termasuk yang mana kalian?


Julukan sepele yang akan melekat dan menjadi identitas

Stop labeling
Berbagai julukan yang akan melekat sebagai label diri via sites.google.com
Ini juga yang menjadikan kita sedikit picik sebagai seorang manusia. Terkadang tanpa sadar, terlontar berbagai julukan untuk orang lain. Biasanya sih, hanya berawal untuk iseng-iseng saja. Bahkan sebagai bahan hiburan atau lucu-lucuan. Namun, efek pada individu yang telah terlabeli dari lingkungan keluarga, akan sangat besar efeknya. Akan semakin menjadikan individu tersebut bertingkah seperti label yang telah didapatnya. Toh, itu akan membuktikan jauh lebih sulit bagi individu tersebut, dibanding menerima dan berperilaku seperti label yang dia dapatkan. Apakah kalian pelaku labeling, jika sudah tahu tentang hal ini?


Pola didik tidak hanya di rumah, tapi sekolah pun menentukan

Stop labeling
Labeling yang tanpa sadar dilakukan oleh guru di sekolah via kellikillion.com
Pendidikan anak pertama tak lain memang datangnya dari keluarga, terutama pola didik orangtua. Pada pembahasan di atas, telah dijelaskan bahwa pemegang peran labeling pertama adalah keluarga terutama orangtua, yang tanpa sadar melakukan praktek labeling.

Peran kedua yang makin memperparah keadaan psikologis anak adalah, pelabelan yang tanpa sadar juga dilakukan oleh orang tua kedua anak yaitu guru. Sama seperti kasus labeling orangtua yang telah dijelaskan sebelumnya, guru juga terkadang tidak sadar akan labeling yang telah dilakukan.

Contoh kecilnya saja ketika mengerjakan satu soal sulit yang tidak dimengerti di depan papan tulis, tanpa sadar guru biasanya berkata, "Masa soal seperti ini saja kamu tidak bisa mengerjakan, kamu tadi tidak memperhatikan saya menerangkan ya?"

Perkataan itu sebuah nasehat baik. Tetapi juga mengandung perkataan labeling yang dapat melekat pada si anak. Bisa saja si anak memang belum mengerti penjelasaan yang diberikan tetapi, si anak ini tipe pemalu yang bahkan takut sekali berkata di muka umum. Hal-hal sepele seperti itulah yang makin membentuk pribadi anak sesuai label yang dia terima terus-menerus.


Jadi salah siapa, jika diriku menjadi seperti ini?

Stop labeling
Salah siapa jika telah begini, via pinterest.com
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering sekali muncul pada individu yang telah diberi label oleh lingkungan sekitarnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, seringnya julukan atau bahkan bullyan yang diterima dan didengar. Membuat individu ini berlaku sesuai dengan julukan yang diterima. Jika telah dijuluki bandel oleh keluarga karena masalah yang tidak dipahami dengan baik, membuatnya bertingkah benar-benar bandel. Bukan hal yang dibenarkan memang.

Namun, individu ini biasanya telah membuktikan bahwa dirinya tidak seperti label yang telah diberikan. Tetapi, oknum yang telah memberi label tidak akan percaya dan akan tetap melabeli seperti semula. Karena membuktikan lebih sulit daripada menerima label tersebut. Akhirnya, sikap bandel itu akan terbentuk dengan sempurna. Lalu, salah siapa jika telah begitu?

Itulah dia sekilas tentang labeling. Sebagai sesama manusia, harusnya kita saling menghargai bukan. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Jangan mudah juga memberi label pada orang lain. Ingatlah, kita semua manusia, bukan barang yang pantas dan memang harus dibeli label. Untuk kalian yang menjadi korban labeling, tidak ada salahnya mengkonsultasikan diri kalian pada psikiater. Jangan sampai macam-macam labeling yang kalian terima dapat menganggu kehidupan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel